“Berangus”, Film Karya Mahasiswa UB Yang Masuk Festival Film Lift Off Sessions March 2021 Di London

Mahasiswa Universitas Brawijaya kembali menorehkan prestasi di dunia Perfilman. Kali ini Mochamad Felix Febianto mahasiswa Pendidikan Vokasi Universitas Brawijaya melalui film karyanya yg berjudul “Berangus” berhasil masuk dalam Festival Film Off Sessions March 2021 di London.

Felix mengatakan, pihaknya  mengirimkan (Submit) Film berangus pada platfrom Film Festival sebab ia melihat lift-off Global network mempunyai dedikasi pada Pembuat Film Independent di seluruh di dunia, dengan tujuan membuka ruang apresiasi yang lebih luas dan membangun jaringan untuk para Filmmaker. “Alhamdulillah, Film Berangus terpilih atau lolos seleksi dalam Festival Lift-Off Session March 2021. Ada 102 Film dalam Festival tersebut, yang nanti nya hanya akan terpilih satu Film sesusai dengan Rating tertinggi dan Penilaian dewan juri yang akan di Tayang di Pinewood Studios”.  

Pembuatan film ini dimulai dari premis cerita nya ditulis sejak pertengahan Juli 2018. Kemudian dilanjutkan dengan menulis skenario nya pada Awal 2019. Dan di pertengahan tahun 2019 film mulai produksi. Selama penggarapan film “Berangsur” sempat mengalami beberapa kendala “Hambatan utama bagi sineas independen perihal budgeting dan keterbatasan alat produksi. Jumlah crew produksi yang sedikit cukup sulit bagi kami, karena kami tidak hanya menghandle satu jobdesk, jadi konstrasi kita di uji disini. Untuk mengatasi itu semua, kami kolektif patungan untuk menyewa alat-alat produksi, dan kerja sama yang efesien dalam setiap jobdesk nya” ungkap Felix.

Pemilihan judul film “Berangus” yang di sutradarai Mochamad Felix Febianto, menurutnya kebutuhan akan pangan bisa dibilang menjadi penentu kesejahteraan manusia, sehingga masyarakat selalu bertengkar dengan sesamanya karena takut kelaparan dan untuk bertahan hidup. Karena orang itu menanam, dan besok akan menuai apa yang ditanam. Sampai terjadi penindasan, penguasa menindas yang lemah, dan siapa yang berhak berbicara dan makan, mulut mereka dibungkam. Ibarat sapi membajak ladang, moncongnya diberangus, majikan mencambuknya untuk bekerja keras, lalu majikan makan lebih banyak dari pada sapi yang bekerja keras. Ibarat sapi membajak sawah, petani yang bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan makannya dirampas haknya, mulutnya diberangus. tidak hanya itu, anak-anak mereka juga sudah doktrin dan siap menjadi robot bernyawa. dengan selembar kertas yang berisi undang-undang ketenagakerjaan. dan lagi, anak-anak mereka meninggalkan ladang.

“Judul “Berangus” terinspirasi dari Sapi yang membajak ladang atau sawah, pada masa kecil saya selalu memperhatikan sapi yang membajak di ladang, kemudian saya menanyakan hal itu pada Bapak Petani, Pak Petani pun menjawab ” itu diberangus, agar sapi lebih giat bekerja, tidak makan tumbuhan yang ada disekitar” saya merasa kasihan dengan sapi itu”.

Di sisi lain “Berangus” juga memiliki arti Pembungkaman Media Massa. Dengan begitu, Film Berangus pada inti nya, Petani di Berangus layak nya sapi yang membajak ladang. Mulut petani dibungkam, tidak bisa makan, tidak bisa bersuara mengutarakan pendapat nya. Adapun pesan moral dari film Berangus” berisi mengenai : keserakahan Manusia akan Kekuasaan, kesederhanaan Petani serta Doktrin sistem Pendidikan.

Film besutannya Felix yang bertajuk “Berangus” ini menceritakan konflik Agraria yang berujung pada Konflik Keluarga, Guruh yang merupakan anak petani yang berhasil menempuh pendidikan di kota, kini kembali ke desa untuk menemui orang tuanya. Namun, pertemuan Guruh dengan ibunya justru membuat hubungan ibu dan anak menjadi semakin buruk. Keras kepala, sombong, dan tidak pernah mendengarkan perkataan ibunya, guntur menjadi konflik yang hadir di tengah-tengah mereka. Kesabaran sang ibu dalam menghadapi anaknya seperti itu terus diuji. Hingga akhirnya Guruh merasa risih tinggal di kampung dan memilih pergi. Dalam benaknya, ia sangat membenci ibunya karena masalah yang tidak pernah dijelaskan oleh ibu Guruh, dan itu membuat hatinya sedih. Tuntutan masa depan membuat Guruh sangat khawatir, namun ibunya menghalangi jalannya. Hanya ayah Guruh yang bisa menyelesaikan konflik ibu-anak karena ayah Guruh bijaksana dan tenang dalam menghadapi situasi apapun.

Felix berpesan kepada generasi muda untuk “Terus berlatih dan belajar meskipun dalam keterbatasan. Dengan keterbatasan itu justru akan ada alternatif baru untuk melakukan hal-hal baru dan akan mengasah kreativitas”.

Leave a Comment

English Web